Sunday, May 24, 2009

Luv at D' first Sight

0 comments
loading...
Hmm...hari ini, entah kenapa aku jadi teringat kamu. Apa karena kita sudah lama gak ketemu yah..? Fyuhh..Keheningan ini benar-benar memaksa pikiranku untuk mengingat masa lalu.....

* * * * *

"Nez, itu ada yang mateng, noh...kuning-kuning deket kepala lu..!!" suara seorang laki-laki meneriakiku dari jauh.

"Mana..Ger..??Orang gak ada juga..?? Liat aja ndiri, belimbingnya ijo semua," aku membalasnya dengan teriakan pula.

"Beh..kotok kali yak mata lu..?? Ono..noh..pas bangat diatas pala lu..!!" laki-laki itu semakin mengencangkan suaranya, sambil menunjuk-nunjuk kearah pohon belimbing, tempat aku berada.

"Oohh, iye..iye..gua liat.Cuma atu aja mpe segitunya lo..!!" aku kembali membalas teriakannya, dan mulai berusaha mengambil belimbing yang dimaksud oleh sahabatku itu.

Setelah kantong plastik hitam yang sudah kusiapkan untuk menaruh belimbing sudah cukup penuh, aku pun menghampiri laki-laki yang daritadi kerjanya hanya menyuruhku sambil berteriak dari jauh.

Oh iya, aku lupa belum memperkenalkan diri, hehe...
Namaku Martin, aku tinggal didaerah Bekasi, tepatnya sih diperkampungannya. Kata temen-temenku, aku termasuk tinggi, gak hitam, putih juga gak. Biasalah, kulit asli orang Indonesia.


Sedangkan laki-laki tadi, namanya Geger, tapi itu hanya nama panggilan saja, hanya orang-orang yang paling dekat dengannya yang memanggil dia dengan sebutan itu. Dan aku termasuk salah satunya.
Geger itu salah satu pria yang lumayan disegani oleh orang-orang kampung didaerah rumahku. Kata orang sih, dia itu dulunya preman, junkie, pemabok, suka bikin onar, dan tidak takut sama siapapun (kecuali bapaknya hehe..).
Tapi, sekarang dia sudah lebih baik dari keadaannya yang dulu. Yahh..seengga-engganya dia bukan junkie lagi, walaupun masih sering mabok.
Dia biasa memanggilku dengan sebutan Tinez. Entah kenapa dia memanggilku dengan sebutan itu. Mungkin memang sudah menjadi tradisi/kebiasaan bagi para remaja dikampung tempat tinggalku ini.Dan percaya atau tidak, hampir semua remaja disini, mempunyai nama panggilan.
Kenapa Tinez..? Dugaanku sih, dia hanya menambahkan akhiran "ez" dibelakang namaku.
Tapi, aku juga gak tahu pasti sih.Karena sampai sekarang pun, aku belum pernah menanyakan alasan tersebut kepadanya.

"Nih, dah cukup kan segini..?" aku memberikan kantong plastik yang berisi belimbing, ketika sampai didekatnya.

"Hehe..Sip, lumayan dah. Bokin gua mah dikasih segini juga dah seneng," seru Geger sambil melihat isi dari kantong plastik yang tadi kuserahkan.

"Eh iya, Mpok Eli mana yak..?Tumben jam segini belon keluar. Biasanya dah buka gerbang bakal Pak Ridwan," Geger berkata sambil menyuruhku duduk diteras depan rumah Pak Lurah, yang namanya disebutkan olehnya tadi.

"Lah, mana gua tau..?Elu yang jadi centengnya aja gak tau, apalagi gua yang baru nongkrong disini," balasku setelah duduk diteras tepat disebelahnya.

"Ahh..Ya udah tungguin aja dah bentar. Gak lama juga bakalan nongol."

Sambil menunggu orang yang dimaksud sahabatku tadi, kami membakar rokok dan mulai menghisapnya perlahan-lahan.

"Eh, Ger..!Dah lama?Tumben lu jam segini dah nongol?" suara seorang perempuan tiba-tiba mengagetkan kami yang sedang asyik merokok.

"Eh Mpok Eli..
Baru aja diomongin, tau-tau dah nongol. Bapak dah keluar mpok?" Geger balik bertanya kepada perempuan itu.

"Tuh, lagi manasin mobil dibelakang, bentar lagi juga keluar. Nih gw mau bukain pager depan," jawab Mpok Eli, sambil memakai sandal dan mulai berjalan kedepan rumah, untuk membuka pagar.

Tiit..Tiit..
Suara klakson mobil mengagetkanku, dan spontan membuat aku berdiri.

"Man.." laki-laki yang mengendarai mobil, membuka jendela dan menyapa temanku Geger.
"Mari pak," jawab Geger, sambil berlari kearah pagar rumah untuk membantu Mpok Eli.

Setelah mobil yang dikendarai oleh Pak Lurah keluar rumah dan menghilang dari pandanganku, Geger dan Mpok Eli pun menutup pagar rumah kembali, lalu mereka berjalan menuju teras tempatku duduk.


"Woi..Ger, itu sapa?Perasaan gw belum pernah liat," Mpok Eli bertanya kepada Geger, dan telunjuknya mengarah padaku.

"Oh iya mpe lupa, ini Martin Mpok adenya Riki.
Itu yang tinggal dibelakang rumah saya," Geger menjawab sambil kedua tangannya memegang badanku.

"Martin.." aku memperkenalkan diri, dan berniat menjabat tangan perempuan paruh baya itu.

"Eli..Tapi biasanya bocah2 mari, manggil saya Mpok Eli," Mpok Eli menjabat tanganku, dan balas memperkenalkan namanya.


Namanya Mpok Eli, seperti yang tadi dia tuturkan sendiri.
Mpok Eli ini perempuan paruh baya, yang bertubuh gempal (hehe... gak bermaksud menghina loh Mpok) , ukuran badannya semampai (seratus tak sampai) , alias pendek.
Jadi, bisa bayangin kan gimana bentuknya? hehe. . .
Dia itu, adik dari istri Pak Ridwan (yang tadi keluar dengan mengendarai mobil), jadi dia bisa dibilang bibinya anak-anak dari Pak Lurah. Tapi anak-anak Pak Lurah biasa memanggilnya dengan sebutan Mpok Eli, sama dengan anak-anak kampungku ini.


"Ya udah yak, Mpok masuk dulu. Ntar Mpok suruh Lia yang bawa airnya kedepan," Mpok Eli berkata sambil berjalan masuk kedalam rumah.

"Iya Mpok.." jawab kami bersamaan.


Saat aku sedang bertanya-tanya tentang penghuni rumah yang keluar tadi, tiba-tiba pintu terbuka kembali, dan seorang perempuan pun muncul dengan membawa gelas dan teko yang berisi air putih.


"Nih bang aernya.
Tumben jam segini dah nongol?" perempuan itu memanggil Geger, dan memberikan teko dan gelas tersebut.

Bersambung dulu yak :p

Baca Kelanjutannya : Luv at D'first Sight (2)
loading...

No comments:

Post a Comment