Wednesday, June 10, 2009

Luv at D'first Sight (5)

0 comments
loading...
Baca dulu awal ceritanya

Yang ini cerita sebelumnya

"Kenalin Tin, nih Hanni. . .anaknya Pak Lurah juga."

"Hanni. . ."

"Martin. . ."


"Ger, Tin, gua tinggal dulu yak. Mau ke dalem dulu bentar, he. . he. , " Jaja berkata sambil membuka pintu rumah Pak Lurah dan tangannya menggandeng kekasihnya itu.

"Masuk dulu ya, a Geger, a Martin," pamit Hanni sambil masuk mengikuti Jaja.

"Eyak dah," Geger menyahutinya. Sedangkan aku hanya mengangguk-angguk saja.
Hehe. .lain dah yang lagi mesra-mesranya.

Nggak nyangka, ternyata dunia memang sempit. Buktinya aku ternyata sekarang tinggal di daerah tempat teman-teman mainku dulu. Salah satunya ya, si Jaja itu. Jaja itu teman sekolah abangku waktu SD, dan kebetulan akupun satu sekolah dengannya. Aku akrab dengannya karena kami sama-sama mempunyai hobi yg sama, bermain dingdong hehe.
Jaja merupakan keturunan asli Bekasi. Ibu dan Bapaknya pun dari Bekasi, lahir di Bekasi, dan sampai sekarang pun masih tinggal di Bekasi. Makanya gaya bicaranya pun benar-benar kental Bekasinya, hehe.
Tingginya hampir sama denganku, supel dan lumayan asyik untuk menjadi teman curhat karena pemikirannya yang sangat dewasa, berbanding terbalik dengan kelakuannya yang seperti anak kecil.
Sedangkan Hanni kekasihnya itu, benar-benar berbeda dengan kakaknya Lia. Dia ramah dan sopan, lumayan cerewet dengan orang-orang terdekatnya. Dan yang paling membedakan dia dengan kakaknya (selain fisik :p), Hanni itu gampang sekali jatuh cinta. Maklumlah, namanya juga ABG.

"Ger, sini dah bentar. Gua mau ngomong sama lu," tiba-tiba Mpok Eli berdiri dan memanggil Geger.

"Napa mpok. .?" jawab Geger seraya menghampiri Mpok Eli.
Lalu mereka berdua pun asyik berbicara di salah satu sudut dari rumah Pak Lurah. Entah apa yang dibicarakan oleh mereka disana, yang jelas sepertinya itu hal yg penting.

Bingung karena tidak ada orang yang bisa kuajak ngobrol, aku pun menyalakan sebatang rokok lagi untuk menghilangkan rasa jenuh.
Disebelahku, Lia serta seorang wanita yang belum kukenal, juga sedang asyik mengobrol.

"Hiuhh. . .gini dah nasibnya jomblo, malem minggu malah nongkrong dirumah orang. Coba klo punya bokin, laen lagi dah ceritanya," gumamku dalam hati.

Tak lama kemudian, pintu rumah Pak Lurah kembali terbuka. Ternyata Jaja dan Hanni yang keluar.

"Lah Tin, diem aja lu. Geger mana. .?" Jaja bertanya sambil duduk di sebelahku, dan diikuti oleh Hanni.

"Itu lagi ngobrol sama Mpok Eli," jawabku sambil menunjuk tempat Geger dan Mpok Eli yg sedang mengobrol.

"Ohh. . .gua pikir kemana.
Ngobrol dong Tin, jangan diem aja daritadi. Santai aja lah, anggep aja rumah orang. Hehe. . ."

"Tau nih a Lia sama a Yanti, bukannya diajak gabung malah dicuekin," Hanni berkata sambil melihat Lia dan wanita yang dipanggilnya Yanti.

"Loh, kok aa? Kan mereka cewek. .?" aku bertanya-tanya didalam hati, mencoba menyimak apa yang dikatakan oleh Hanni tadi. Karena aku masih baru disini dan belum begitu mengenal mereka, akhirnya aku hanya diam saja sambil terheran-heran dengan panggilan Hanni kepada kedua kakaknya itu.

"Lah, atuh dianya diem aja. Mau ngobrol mah gabung aja sini mas," sahut cewek yang bernama Yanti itu.

"Iya, kalo mau ngobrol kesini aja Martin :) . Oh iya, belum kenalan sama a Yanti kan. .?" Lia ikut menjawab dan melihat kearahku.

"Tuh kan, Lia juga manggilnya a Yanti. Berarti gua emang gak salah denger tadi," aku kembali bertanya-tanya dalam hati.

"Eh iya belon kenalan, sampe lupa. Hehe. . .Kenalin, gue Yanti," Yanti mengulurkan tangannya.
Sambil menghampiri Yanti, aku menyalami tangannya dan memperkenalkan namaku.

Eh, ternyata harus diputus lagi, hehe.

Lanjut lagi yukk. . .!!
loading...

No comments:

Post a Comment