Wednesday, July 08, 2009

Luv At D'first Sight (8)

0 comments
loading...
Baca dulu awal ceritanya

Yang ini cerita sebelumnya

Aku lalu berdiri dan memakai sandalku, lalu pergi menuju warung rokok yang letaknya di sebelah rumah pak lurah. Tak kupedulikan suara tertawa Geger, yang sedang senang melihat penderitaanku.

"Sompret bangat dah, orang lagi kesel malah di ketawain," sambil berjalan aku terus-terusan mengumpat, sampai-sampai tak memperhatikan ada dua sosok makhluk yang sedang menuju kearahku.

"Nez. .woi. .!! Lah, mau kemana lu? Ngeluyur aja," suara Asih memanggilku saat aku berjalan melewatinya. aku langsung menghentikan langkah dan membalikkan badan untuk melihat wajah orang yang tadi memanggilku.

"Eh elu Sih. Darimana aja lu? lama bangat datengnya. Daritadi dah di tungguin juga !" tidak kuhiraukan lagi pertanyaannya, aku langsung mengeluarkan kekesalanku saat itu juga.

"Hehehe. .sori Nez, gua keasyikan nonton dangdutnya, mpe lupa waktu, " Asih menjawab sambil tersenyum melihat tampangku.




"Yah. .emang udah kebiasaan elu Sih, klo dah nonton dangdut lupa segala-galanya !!" aku masih melampiaskan kekesalanku karena harus menunggu kedatangannya, 1 jam lebih di tengah lapangan dan ditemani oleh para nyamuk.

"Ciee. .marah nih ceritanya? Ya maap dah Nez, lu pan tau ndiri. .gue paling hobi klo nonton dangdut. Apalagi tadi dangdutnya dari Ria Group, hehe. . .pan seru Nez," rayu Asih.

"Au ah. .ya udeh, gua mao beli rokok dulu," aku langsung melangkahkan kaki dan melanjutkan perjalanan menuju warung.

"Eh Nez. .tunggu dulu napa!!" teriak Asih sambil berlari kecil untuk menyusulku.

Lagi-lagi aku terpaksa berhenti, dan membalikan badanku.
"Ngapa. .??" tanyaku ketus.

"Eeitt dah nih orang, klo lagi marah jutek amat," kata Asih ketika akhirnya berhasil menyusul, dan berdiri di depanku.

"Gue nitip es teh dong Nez, aus bangat nih," Asih lalu mengeluarkan selembar uang, dan memberikannya padaku. Baru saja mau kuambil, tapi dia malah menarik kembali tangannya.

"Ntar dulu Nez, gue tanya temen gue dulu. Dia nitip juga apa kagak," Asih mencegahku agar tidak kemana-mana dulu.

"Nur. .Cu. .Lu mau nitip es kagakkk. .?? Teriak Asih kepada temannya.

"Hahhh. .apa'an? Es. .? boleh dahhh. . ." temannya menjawab sama kencangnya dengan Asih.

"Berarti nitip 2 Nez. Nih duitnya,"

Langsung kuambil duitnya dan mulai berjalan lagi.
"Geger di tengah lapangan, deket tiang gawang. ." kataku saat meninggalkan Asih, tanpa membalikkan badan.

Saat melewati GP aku melirik sebentar kearah terasnya, tapi ternyata Lia dan saudara-saudaranya sudah tidak ada lagi disitu. Sedangkan remaja yang lain masih asyik bermain di halaman rumahnya.

"Pak beli rokok super sebungkus, sama teh botol yang dingin 2," aku memesan kepada bapak penjaga warung, setibanya di warung yang bersebelahan dengan rumah pak lurah.
Saat menunggu bapak itu mengambilkan pesananku, aku tak sengaja melihat ada seorang gadis yang sedang memperhatikanku. Ketika aku balas melihatnya, ia langsung terburu-buru mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

"Hmm. .napa tuh cewek ?" tanyaku dalam hati.

Setelah selesai mengambil pesananku serta kembaliannya, aku langsung meninggalkan warung tanpa melihat lagi, ke arah gadis yang tadi tertangkap basah sedang memperhatikanku.
Ketika sampai di tengah-tengah lapangan, aku melihat Geger, Asih dan temannya sedang asyik bercanda-canda.

"Neh Sih pesenan lu. .!!" aku langsung memberikan kedua teh botol dingin yang di pesannya dan sudah di bungkus dengan plastik.

"Hehe. .tenkyu Nez. Masih ngambek juga lu ?" goda Asih sembari mengambil teh botol yang kusodorkan kearahnya. Aku lebih memilih diam dan duduk di sebelah Geger, dengan terlebih dulu melepaskan sandalku.

"Huss. .neng, jangan di godain, ntar ngamuk lagi, hahaha. . ." timpal Geger dan ikut mengejekku.

Aku tetap tidak menghiraukan ejekan mereka. Kubuka plastik yang menyegel rokokku, lalu kuambil satu dan membakarnya.

"Eh Nez, lu udah kenalan belon sama Nur?" tanya Geger

"Oh iya, gue lupa ngenalin tadi, hehe. .
Abis si Tinez tadi manyun aja. Kenalin Nez, ini Nur temen gue," Asih mengenalkan temannya. Kuulurkan tangan mencoba berkenalan dengan teman Asih.

"Nur. ." teman Asih berkata sambil menyalami tanganku.

"Tinez. ." aku balas menyalaminya.

"Gue pikir lu si Ipong tadi. Eh. .gak taunya bukan, hehe. ." kata Nur saat selesai berkenalan.

"Bukan. .gua Tinez,"

"Ipong. .sapa tuh?" aku bertanya-tanya dalam hati, dan melihat kearah Geger sebagai tanda aku bertanya. Rupanya Geger mengerti isyaratku, dan menggerakkan bibirnya tanpa bersuara. Aku menangkap isyaratnya, dan mengerti kalau tadi dia berkata "nanti aja".

Malam semakin larut, di langit bintang-bintang mulai bermunculan untuk menemani sang bulan. Suara jangkrik dan kodok menemani kami yang sedang bercengkrama di tengah-tengah lapangan bola. Asih mulai mendekati Geger, rupanya hawa dingin ini membuatnya ingin semakin rapat dengan kekasihnya. Aku dan Nur hanya bisa iri melihat kemesraan mereka.

"Huuhh. .coba klo gua punya bokin, gak bakalan kayak gini dah nasib gua" aku meratapi nasibku dalam hati.
Untuk mengusir rasa jenuh, aku membakar rokok lagi, dan mengajak Nur berbicara tentang keseharian masing-masing dari kami.


* * * * *


"Ger, emang si Ipong sapa?" tanyaku saat kami sudah berada di teras GP.

"Itu si Bayu. ."

"Ohh. .gua pikir sapa"

Karena badanku terasa pegal, daritadi kerjaannya hanya duduk saja. Aku lalu membaringkan tubuhku di lantai teras. Kurenggangkan otot-otot tubuh, kaki, tangan dan kepala.

hehe...bersambung lagi yak :p

loading...

No comments:

Post a Comment